Perkembangan teknologi komunikasi dan Informasi (ICT) di Indonesia belakangan ini cukup pesat. Jumlah pengguna internet meningkat semakin signifikan. Media komunikasi dan informasi virtual berupa website, blog, Mailinglist dan sejenisnya baik milik individu maupun berkelompok bertambah banyak. Jumlah penyedia jasa koneksi internet atau ISP pun terus meningkat. Semua itu membuktikan bahwa ICT semakin merangsek masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sayangnya kondisi ini masih terpusat di Jawa, sementara desa-desa di luar Jawa kurang mendapatkan akses komunikasi data tersebut.
Jika dibandingkan dengan jumlah pertumbuhan penduduk Indonesia, dapat dilihat bahwa pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia relatif stabil yaitu 25% per tahun, namun cenderung berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk. "Rendahnya penetrasi Internet di Indonesia bukan semata-mata karena harga bandwidth yang mahal, melainkan karena masih terbatasnya jumlah komputer." Menurut Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Sylvia W. Sumarlin. "Indonesia membutuhkan sedikitnya 25 juta unit komputer guna meningkatkan penetrasi Internet yang hingga akhir tahun ini diperkirakan mencapai 20 juta pengguna".
Pemerintah mencanangkan program Desa Berdering pada 2010 dan Desa Pintar pada 2015 di mana sekitar 50% penduduknya akan dapat mengakses Internet. Pemerintah juga telah menyusun regulasi yang mengarah kepada penurunan bandwidth a.l. mengatur sirkit sewa dan rencana pembangunan gerbang Internet.
Munculnya komunitas seperti RTRWnet adalah salah satu fenomena dimana masyarakat tidak tinggal diam dan hanya menunggu realisasi program pemerintah diatas. Secara berkelompok akan jauh lebih murah untuk dapat terkoneksi internet. Dan banyak diantara kelompok itu lebih maju kedepan, bukan hanya bagaimana terkoneksi internet namun sudah jauh dalam urusan berbagi informasi dan pengetahuan.
Menurut pengamatan, tumbuhnya kelompok-kelompok ini tidak lepas dari peran aktif beberapa pengiatan IT yang idealis. Mulai dari mengenalkan teknologi perangkat keras sederhana yang dapat
dirakit sendiri, antena kaleng dan Wajan Bolik misalnya. Juga berbagi pengetahuan tentang perangkat lunak berlisensi open source seperti drupal, joomla atau CMS lainnya. Hal ini Mendorong tumbuhnya website-website komunitas diberbagai wilayah di luar Jawa. Salah satunya Atjeh Joomla Website ini dibuat dengan menggunakan Joomla!. Sedangkan Komunitas Joomla diciptakan untuk memberikan ruang kepada para peminat Joomla CMS untuk saling bertemu, bertukar informasi sesama
members dan ikut mengembangkan Joomla CMS di Tanah Rencong ini.
Kelompok belajar Bentang Alam, juga lahir dari semangat untuk saling berbagi informasi dan pengetahuan. Uniknya kelompok ini ada pada konsep belajar bersamanya. Dimana semua setara sebagai pelajar dan pengajar. Fokus pada pengelolaan data informasi berbasis web dan juga Sistem Informasi Geografis (GIS). Semua dapat bertanya dan menjawab pertanyaan dari pelajar lain. Termasuk mempublikasikan hasil-hasil kerja, riset dan inovasi yang selama ini dikembangkan. Peningkatan kapasitas basic juga akan terdorong dari pertukaran pengalaman melalui media Bentang Alam Online, Bentang Alam Mailinglist dan Forum Bentang Alam.
Tentu semangat saja tidaklah cukup. Harus ada praktek nyata dari seluruh pelajar di Kelompok ini. Mari lihat dan hitung secara sederhana. Jika satu pelajar berbagai alamat website organisasinya, Blog, ataupun alamat website lain yang dianggap relevan maka akan terkumpul setidaknya 20 alamat website. Jika berbagi dua alamat website maka akan terdata 40 alamat website di Bentang Alam Online. Bayangkan jika semua secara berkala, berbagi dengan rutin
meng-input alamat web site dalam satu tahun akan terdata kira-kira 14.000 alamat website. Alamat website ini sudah terkelompok sesuai dengan kategori masing-masing. Yang tentu sangat membantu sekali untuk mengarahkan pengujung juga pelajar sendiri untuk mengaksesnya kelak.
Contoh lain, mari kita hitung jika setiap pelajar berbagi informasi 1 kali dalam sehari di Bentang Alam Mailinglist maka akan terakumulasi setidaknya 20 informasi setiap hari dan rata-rata 6000 informasi setahun. Yang tentunya bukan mustahil dari 6000 informasi tadi akan menjadi pengetahuan-pengetahuan bermanfaat bagi kelompok ini, juga masyarakat luas baik melalui website dan Forum Bentang Alam.
Pertanyaannya, mengapa kemewahan diatas sulit untuk diraih? Sebenarnya tidaklah sesulit yang kita kira. Syaratnya adalah mulai berbagi dari sekarang. Berbagi informasi dan pengetahuan yang
kita miliki, bisa saja sebuah berita, opini bahkan pertanyaan-pertanyaan yang berkait dengan aktifitas di tempat kerja. Jangan pernah memberikan lebel atau cap bahwa informasi atau
pengetahuan yang kita miliki tidak layak untuk dibagi. STOP berfikir bahwa bertanya itu adalah sebuah kebodohan. Dan juga takut kalau kita berbagi, maka kita akan kehilangan apa yang kita miliki.
Cibinong, Minggu 14.54
02 September 2007
|
|
|