Teknologi GIS Bisa Menjerumuskan ke Dalam Bencana
Projo Danoedoro
BERITA tentang bencana alam memenuhi media massa akhir-akhir ini. Gempa di Nabire, disusul gempa dan tsunami di Aceh-Sumatera Utara, erupsi vulkanik, dan banjir di beberapa tempat. Banyak orang bertanya: apakah wilayah permukiman itu telah dirancang dengan memerhatikan risiko bencana? Apakah rencana penataan kembali kawasan bencana juga dapat dijamin tingkat keamanannya dari sisi bencana alam?
Tak sedikit kalangan perencanaan menyarankan penggunaan teknologi penginderaan jauh (inderaja) dan sistem informasi geografis (GIS) untuk keperluan tata ruang, pemilihan letak (site selection), maupun evaluasi kesesuaian lahan. Ada pula yang menyatakan bahwa faktor risiko bencana alam dipertimbangkan dalam perencanaan di berbagai wilayah di Indonesia. Namun, penggunaan GIS yang kurang tepat dalam memodelkan risiko untuk perencanaan wilayah justru bisa menjerumuskan wilayah tersebut ke dalam bencana.
{sidebar id=1}
Bagi para perencana, GIS hanyalah alat yang dipakai untuk menurunkan sejumlah alternatif dalam perencanaan wilayah. Alternatif ini kemudian diberikan kepada para pengambil keputusan (decision makers) untuk dipakai sebagai acuan perencanaan, lengkap dengan segala risiko yang melekat. Singkatnya, ketika berbagai alternatif itu dibuat, proses yang ada seharusnya murni teknis-profesional dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Sekali salah satu alternatif dipilih, keputusan politislah yang berlaku. Oleh karena itu, alternatif yang dikembangkan seharusnya terbatas, logis, serta jelas risikonya, untuk "menggiring" para pengambil keputusan menentukan pilihan yang paling masuk akal dengan risiko yang jelas pula. GIS merupakan alat bantu perencanaan yang tepat untuk memenuhi kriteria ini.
GIS merupakan sistem berbasis komputer yang digunakan dalam analisis informasi spasial (keruangan) serta menurunkan informasi baru yang berguna. Dalam sistem ini, terdapat banyak kelompok aktivitas dan analisis, mulai dari pemasukan, pemrosesan, hingga pencetakan keluaran berupa peta. Namun, untuk kepentingan perencanaan wilayah, operasi tumpang susun (overlay) peta merupakan metode yang dominan karena mampu menggabungkan banyak variabel keruangan dalam mencapai optimasi pemanfaatan lahan.
Multivariabel spasial
Pada umumnya, perencanaan menentukan lokasi optimal bagi suatu peruntukan dengan memilih serangkaian variabel yang dipandang berpengaruh besar bagi layak- tidaknya lokasi tersebut. Variabel-variabel itu dapat dikelompokkan menjadi variabel pendukung kelayakan sosial-ekonomi, kelayakan jarak atau aksesibilitas, dan kelayakan fisik.
{sidebar id=2}
Setiap variabel tersebut harus dapat dipetakan, dengan satuan-satuan pemetaan yang jelas dan akurat batasnya. Bobot dan bentuk pengaruh setiap variabel terhadap model sasaran juga harus ditentukan sejak awal. Sekelompok variabel berupa kemiringan lereng, tekstur tanah, dan curah hujan, misalnya, dapat menghasilkan variabel turunan berupa kerawanan erosi. Berbagai model perencanaan memerlukan kombinasi variabel yang berbeda dan model yang digunakan pun bisa bervariasi, tergantung pada pendekatan yang digunakan.
Dalam perencanaan wilayah, kerawanan bencana sebenarnya dapat dinyatakan sebagai variabel turunan terpisah, yang memerhatikan aspek jarak atau aksesibilitas dan juga variabel fisik. Jarak terhadap garis sesar atau patahan geologis aktif perlu dipetakan sebagai masukan. Begitu pula jarak terhadap garis pantai, reaktor nuklir, dan sungai.
Teknologi GIS mampu mengombinasikan berbagai variabel tersebut dan menurunkannya menjadi informasi baru, misalnya peta-peta kerawanan bencana, kemampuan lahan, kesesuaian untuk permukiman ataupun industri, dan bahkan lokasi-lokasi automatic teller machine (ATM). Namun sayangnya, hanya hal-hal inilah yang ditonjolkan sehingga seolah- olah GIS telah menyediakan semuanya dan pengguna tinggal menjalankan paketnya. Padahal, sebagai alat, GIS tidak peka terhadap metodologi. Berbagai kesalahan manusia-mulai dari konseptor hingga operator-dapat menurunkan hasil akhir yang justru menjerumuskan ke dalam bencana!
Sumber kesalahan
Ada banyak sumber kesalahan yang sering terdapat dalam penggunaan GIS. Tulisan ini mencoba mengulas beberapa dari dua kategori: salah masukan dan salah pemodelan.
Tidak jarang masukan berupa "peta geologi" dalam Data Pokok untuk Pembangunan Daerah hanya berisi distribusi jenis atau formasi batuan, tanpa adanya indikasi struktur patahan, arah perlapisan, dan sebagainya. Peta ini tentu saja kurang memadai untuk menurunkan informasi kerawanan bencana-misalnya gempa dan longsor. Namun, begitulah kenyataan yang ada. Peta dengan akurasi informasi dan relevansi yang rendah sering kali "salah masuk" ke dalam suatu pemodelan untuk perencanaan. {sidebar id=3}
Sering pula dijumpai, peta-peta kedaluwarsa dijadikan masukan dalam model perencanaan. Tahun 1995-1997, penulis pernah menjumpai peta-peta tata ruang di beberapa kabupaten di pantai utara Jawa Tengah menggunakan peta dasar tahun 1960-an, dengan posisi garis pantai yang bergeser sampai 1,5 kilometer di selatan garis pantai sekarang!
Masalah berikutnya adalah penggunaan skala yang tidak sesuai. Contohnya, untuk perencanaan wilayah pada skala 1:25.000 diperlukan masukan peta-peta berskala 1:25.000 atau lebih besar/rinci. Karena terbatasnya data dasar, banyak perencana lokal di Indonesia hanya memperbesar peta skala 1:100.000 untuk diproses bersama dengan peta-peta skala 1:25.000. Teknologi GIS dengan mudah dapat menjalankan operasi ini, tetapi secara metodologi hal ini tidak bisa dipertanggungjawabkan. Akibatnya, banyak satuan-satuan pemetaan kecil yang seharusnya menunjukkan lokasi-lokasi rawan bencana, misalnya longsor, tidak ikut dipetakan pada hasil akhir.
Kesalahan lain yang biasa dijumpai adalah dalam proses pemodelan. Di Indonesia, cara yang sering digunakan dalam perencanaan wilayah dengan GIS adalah menerapkan skor pada setiap satuan pemetaan. Misalnya, pada peta lereng, skor 1 diberikan pada lereng datar, 2 untuk lereng miring, dan 3 untuk lereng curam, yang mengacu pada tingkat kerentanan banjir. Hal yang sama diberikan pada peta-peta lain. Ketika peta-peta ini di-overlay-kan dengan cara menjumlahkan seluruh skor pada seluruh peta masukan, skor total terkecil menunjukkan wilayah yang paling rentan banjir, sedangkan skor total besar menunjukkan hal sebaliknya.
Hasil masukan tiga masukan peta saja secara signifikan akan berbeda dengan hasil masukan sepuluh peta. Sama halnya apabila model yang digunakan bukan penjumlahan melainkan perkalian, pembagian, atau kombinasi dengan operasi logis (IF-THEN). Sayangnya, pemberian skor oleh para praktisi kadang kala tak didasari oleh hasil riset yang terpercaya.
Banyaknya variabel berupa peta yang dilibatkan dalam GIS berbanding lurus dengan efek perambatan kesalahan (error propagation) yang terjadi. Kesalahan pada peta-peta masukan akan terakumulasi pada hasil akhir; yang dimaksudkan sebagai rekomendasi lokasi permukiman yang aman ataupun peta tata ruang.
Bantuan inderaja
Apabila dimanfaatkan secara proporsional, teknologi inderaja memberikan kontribusi signifikan dalam perencanaan wilayah dengan bantuan GIS. Kontribusi paling mendasar diberikan dalam bentuk synoptic overview, di mana gambaran umum wilayah dapat disajikan secara menyeluruh tetapi ringkas. Citra inderaja juga menjadi sumber revisi peta dasar yang baik, khususnya untuk fenomena yang cepat berubah seperti garis pantai yang dinamis.
Di samping itu, citra inderaja multiwaktu dapat memberikan gambaran mengenai proses yang sudah dan sedang berlangsung. Perubahan penggunaan lahan karena urbanisasi dapat dipetakan dengan mudah. Zonasi kerentanan bencana dapat dilakukan dengan cepat karena setiap bencana besar meninggalkan jejak rekaman berupa pola kenampakan bentang lahan yang khas. Pertumbuhan garis pantai, abrasi, longsor, gempa bumi, bahkan tsunami baru-baru ini pun meninggalkan jejak yang dapat membantu para surveyor dan perencana dalam memetakan wilayah bencana. {sidebar id=4}
Banyak wilayah terpencil yang belum mempunyai data dasar spasial. Ada pula wilayah yang kehilangan seluruh datanya karena bencana. Untuk wilayah semacam ini, pendekatan holistik dengan citra inderaja merupakan salah satu alternatif terbaik. Dengan pendekatan ini, wilayah yang bersangkutan dapat dipetakan ke dalam satuan-satuan dengan karakteristik homogen, baik sifat fisik maupun kondisi penutup dan penggunaan lahannya. Berbagai karakteristik ini kemudian dapat dikelompokkan ke dalam potensi dan hambatan atau ancaman bencana yang ada. Melalui cara ini, evaluasi kemampuan atau kesesuaian lahan dan pemilihan letak peruntukan yang optimal dapat dilakukan secara relatif cepat, dengan mengurangi sumber-sumber kesalahan pada masukan yang tidak jelas akurasinya.
Meskipun demikian, pendekatan holistik ini tentu saja mempunyai kekurangan karena terjadi oversimplification, di mana setiap satuan pemetaan memuat berbagai karakter lahan dalam batas-batas yang persis sama. Oleh karena itu, model inventarisasi dan evaluasi lahan semacam ini sebaiknya dijalankan terlebih dahulu untuk perencanaan yang tidak terlalu rinci sambil secara sistematis mulai menyusun (kembali) data spasial dasar dan tematik dalam kerangka GIS.
Projo Danoedoro, Dosen Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh Fakultas Geografi UGM