--caturaka--
Siang terik itu tidak membuat kepansan. Pukul sebelas entah lebih berapa aku berjumpa seseorang yang tidak membuat canggung. Suara ditelepon beberapa minggu dan hari sebelumnya membuyar dengan keramahan seorang yang entah kenapa langsung begitu bagai karib lama. Bersama seorang kawan perempuannya, percakapan kami tidak hanya dibatasi dalam sebuah bahasa.
Ya, beberapa waktu sebelumnya janji kami untuk bertemu dalam sebuah rencana perjalanan singkat membaca pesan-pesan yang tersembul dari muntahan lumpur Lapindo. Yang kami sepakat, pesan-pesan tersembul yang tidak kasat didapatkan dalam singkat pertapakan. Meski beberapa jam, yakin kami akan menemukan cerita-cerita haru baru derita warga dan alam yang meronta.
Leherku seperti tercekik, mungkin tidak biasa bagi tukang ojek; sopir-sopir berbagai jenis kendaraan; pegawai pengurukan; pegawai BPLS; tentara; polisi; banser; atau warga beberapa desa sekitar yang masih setiap hari berada dan melintas di sekitar genangan lumpur panas ini. Tidak hanya tubuhku yang merasakan perbedaan, dua kawan seperjalanan merasakan perubahan kepeningan kepala. Ah, mungkin hanyalah terik mentari yang siang itu makin menusuk tajam. Atau sekumpulan gas hydrogen sulfide sebagai bagian dari amarah lumpur yang mesti kulaknat karena mencekikku demikian.
Sebagai ‘pengunjung’ yang hanya beberapa kali melintasi dan menengok, sumpah serapah dan makian kepadanya tidak akan kulakukan. Toh, orang-orang yang masih disana tak kulihat mengumpatinya. Sang lumpur saja bagai pendosa, bukan manusia-manusia yang membangunkannya.
Sebuah angkutan kota berikut sang sopir menemani perjalanan singkat kami. Asap putih membumbung kadang besar dan agak mengecil nampak dari ‘pusat semburan’. Beda dengan tipisnya asap buangan lumpur yang menikam deras kali porong.. Arus deras membawa cairan hitam menuju ke timur sealur arus sungai, beda arah dengan asap yang tertiup angin kearah sebaliknya. Beberapa bagian nampak lumpur memadat di pinggiran. Deras arus sebanding dengan keluaran cairan hitam dari pipa saluran. Hanya berbeda warna, dan terlebih kepulan asap saat sang cairan hitam menghunjam pinggiran sungai.
Dua lubang kecil yang menyemburkan air berbau menyengat menjadi bahan pertunjukan seorang muda dan dua ibu beserta anak yang mengiringinya. Seakan tak terpuaskan dengan menunjukkan, api dari segulung kertas menjadi demo saat diletakkan diatas lubang kecil ini. Nyala api pertanda semburan mengandung sejenis gas yang mungkin biasa digunakan dalam dapur rumah. Meski tak lama menyala, cukup untuk mempertunjukkan sebuah cerita lain adanya sulur-sulur dimana lumpur ini bisa menyembur. Matinya api menggolakkan lubang yang semula tenang menjadi sebuah semburan air bergemuruh. Tak lama juga, hanya cukup menunjukkan isyarat pergolakan dari sebuah ‘kehidupan’ yang terkungkung dari dalam tanah. Bau busuk lebih menyengat memaksaku mencoba mengatur nafas perlahan. Aku dan sang kawan hanya saling berpandang, cukup sebagai tanda bagi kami untuk menyurut menjauhi lubang.
Seorang tentara nampak mengendarai motor memandang penuh selidik. Bukan sebuah prasangka. Berbalik arah, berhenti, dan masuk kedalam sebuah warung menjadi pertanda kami ‘orang asing’ yang perlu diawasi olehnya. Hanya tatapan tajam saja, bertanyapun tak dilakukannya. Ya, semenjak di tepian kali porong, melihat demo lubang semburan, hingga kembali pada seonggok angkutan yang berlangsung cukup lama, tak membuatnya beranjak juga. Biarlah, mungkin memang sudah tugasnya.
Hanya kali ini cukup berbeda. Beberapa minggu saat hadirnya diriku sebelumnya, sebuah demo seorang pemancing ikan nampak sangat dipaksakan. Kegelian luar biasa saat sang pemancing mencoba melakukannya tak jauh dariku bersama beberapa kawan. Hasutan luar biasa, melalui adegan pemancingan. Bertanya dalam hati, jenis ikan apa yang bisa hidup dalam keruh air dan suhu panas luar biasa? Konyol.
Baja tipis beroda kembali bergerak membawa kami menuju area pusat semburan. Bau semakin menyengat. Berjejer nampak pula tenda-tenda pengungsi baru di sepanjang jalan bekas tol. Tak sempat kami menyapa, gerak roda membawa kami pada ujung akhir area terbuka. Kanan nampak bekas bangunan yang tinggal tembok-tembok seperti rumah tanpa atap terendam setengah tingginya. Kiri nampak menjulang tanggul penahan begitu tinggi. Dua kawan mencoba merekam beberapa sembulan aura di area kami berada. Turun mendekat pada bekas rumah yang tergenang, berikutnya naik melalui titihan tangga tanah buatan pada arah yang berbeda. Tangkaplah cerita derita dan pergolakan amarah yang terjadi kawan… Secangkir kopi kusruput mengurangi sesak nafas dan bau yang menyengat.
Teringat pada sebuah pemberitaan saat awal terjadinya semburan, sekumpulan gas biasanya terdapat pada kejadian serupa. Polisiklik Aromatik Hidrokarbon(PAH) cukup tertanam di memori otakku sebagai sebuah bahasa baru. Gas kimia yang biasanya mengekor pada setiap kejadian semburan yang pernah terjadi di wilayah lain sebelumnya. Apakah terjadi disini? Oh Tuhan, celakalah aku… Tak terlihat, aroma-pun kadang menipu. Siapa gerangan yang tahu?
Hanya membayangkan kengerian luar biasa. Sebatang rokok mengandung zat-zat kimia seperti yang kuhisap dikeluarkan oleh lubang semburan besar dan bertahan pada kubangan lumpur yang ada. Celakalah kami yang berada disini. Sudah berapa lama orang-orang menghisapnya. Berapa yang sudah dirawat karenanya? Dua tahun begitu lama, mengapa tidak ada yang memberitahukan. Bukankah para ahli mestinya melakukannya. Bukan berdebat mempersalahkan gempa sebagai pemicu semburannya. Kembali mempersalahkan alam yang menggeliat kesakitan akibat sentuhan tangan-tangan serakah. Berapa lagi yang mesti ditutupi. Tak cukupkah derita warga kini. Entah sepuluh , dua puluh, atau bertahun-tahun lagi masih ada derita yang lebih besar menjadi mimpi buruk warga.
Cekikan itu membuyarkan bayanganku. Luar biasa, aku menjadi bagian penghisap gas-gas yang aku tak tahu berapa ragam dan besar jumlahnya. Beberapa jam cukup sudah merasakannya. Aku hanya terheran dengan kemampuan adaptasi luar biasa orang-orang. Tanpa masker, baju pelindung, dan sepatu lapangan sungguh berani menggauli area yang memiliki ‘daya bunuh’ ini. Dua tahun bulan depan, menjadi dasar hitungan seberapa besar gas-gas itu sudah menyatu dalam tubuh orang-orang. Sungguh tak terbayang, semoga saja tidak ada. Jikapun ada, sungguh luar biasa hingga kini tak satu risetpun dilakukan oleh para penguasa untuk menemukannya. Ataukah terlalu ngeri untuk sekedar tahu ada tidaknya. Sebuah kebejatan luar biasa jika tahu sedari awal dan tak mencoba menyajikan sebagai bagian dari pengurangan resiko ancaman kematian bagi orang-orang.
Sederetan bangunan kokoh berpenghuni warga korban menjadi jujugan berikutnya. Nampak sebuah kehidupan yang tak normal pada sebuah wilayah yang berbanderol ‘pasar’. Inilah tempat pengungsian warga yang bertahan menolak ‘pembelian’ milik mereka yang terendam. Berbagai skema nyaring diberitakan sebelumnya. Warga yang penuh semangat mencoba kritis atas tawaran-tawaran bagi keberlanjutan hidup mereka. Seorang kawan muda menemani satu jam kami menangkap sekelebat kehidupan dan derita warga dalam sebuah perbincangan.
‘Partitur bulan diatas lumpur’ mengakhiri perjalanan singkat kami di wilayah pergolakan sesungguhnya. Beberapa komunitas yang mencoba menyajikan ‘hasil tangkapannya’ dalam sebuah pertunjukkan menghantarkan kaki-kaki kami meninggalkan seonggok cerita derita yang masih berlanjut. Sebuah wilayah yang kulihat seperti balon tiup seratus perak mainan anakku, dengan air comberan panas yang terisi didalamnya.
Berhadap kami pada arena ekspresi pelaku seni budaya dalam wayang dongeng lakon ‘banjir susu’. Rangkaian kata dua kolaborasi kawan perjalanan terlontar dan selalu kuingat: mataku lumpur, telingaku lumpur, mulutku lumpur, hidungku lumpur,…(dan yang pasti sekujur tubuh berbalut lumpur dan ikutan lainnya yang tak terlihat). Sebuah akhir perjumpaan yang belum berakhir. Semoga lebih banyak pesan bisa kau sajikan, …menghantar banyak orang merasakan derita korban.
|
|
|